Setelah cukup berdebu blog ini akhirnya passion saya untuk menulis
muncul kembali. Mungkin karena kemarin kemarin saya terlalu sibuk tenggelam
atau 'sengaja' menenggelamkan diri saya ke dalam hiruk pikuk pikiran ini.
Hai, Buitenzorg apa kabar disana? Bagaimana
kisahmu? Bagaimana kisah Mr. D yg sedang terus berusaha mengadu nasibnya?
Saya? Saya disini masih (berusaha)
baik-baik saja..masih bisa (berusaha) tersenyum, masih (mencoba) banyak
tertawa, yaa begitulah~
Alhamdulillah dengan hijab ini saya merasakan
ketenangan yang sebenarnya tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Hijab
ini membuat saya menjadi lebih bersabar, lebih rasional, dan yang pasti menjadi
lebih tenang. Masuk ke semester 8 dalam perkuliahan punya tanggung jawab
tersendiri untuk saya, saya harus mulai memikirkan skirpsi. Ya..harus dimulai
dari sekarang karna saya sudah tak sabar ingin melihat senyum sumringah kedua
orang tua saya..
Hai, Buitenzorg..sudah lama saya tidak
pernah berbagi cerita denganmu sudah bosankah kamu dengan cerita saya yang
masih gagal usaha untuk Move On. Mianhae, Gomennasai, Vergeef Mij..
Hai, Buitenzorg..banyak cerita yang ingin
saya ceritakan..
Masih dalam usaha saya untuk bisa lepas
dari bayang-bayang Mr. D, sekarang saya sudah mengganti nomor ponsel ini demi untuk
menghindari SMS-SMS darinya atau SMS saya untuk dia. Setidaknya saya berusaha
maju untuk tidak berharap dengan sebuah pesan singkat..Saya tidak mau berharap
lagi.
Kadang saya berpikir kenapa dunia terlalu
menginginkan kita untuk terpisah.
Kenapa alur cerita kita dibuat terlalu
rumit untuk dimengerti oleh logika seorang Audra Bianca. Ini bukan cerita Cinta
Fitri atau bahkan Tersanjung yang dibuat sampai ribuan episode demi memuaskan
hati pemirsa televisi, tapi kenapa sampai saat ini saya masih belum mengerti
apa yang sedang Tuhan rencanakan untuk kita berdua. Siapa yang sedang bahagia
menonton kesedihan hati saya yang terpisah oleh jarak dan keadaan?
Saya tidak mau berharap....
Hai, Buitenzorg tidak rindukah kamu
memanggilku "ayang mpret"? Tidak rindukah kamu menungggu saya pulang
kuliah hanya untuk online Skype? Tidak rindukah kamu dengan semuanya?
Bukannya menghiperbola, tapi saya masih
ingat betul susuran jalan cerita kita yang bermula dari lapangan gersang di
kampus tercinta. Boleh saya ingatkan sedikit?
Hampir 4 tahun yang lalu dimana saya masih
menjadi mahasiswa lugu yg mengikuti semua kegiatan ospek di kampus, ya
mendapatkan tanda tangan senior sebanyak-banyaknya dengan tujuan mendekatkan
tali persaudaraan antar angkatan di jurusan kami.
Sampai suatu malam ada pesan singkat masuk
ke inbox HP saya
berisi SMS nyasar, entah karena apa saya yang sebenarnya bukan tipe orang yg
suka menggubris SMS nyasar dan kebetulan posisinya saya juga sudah
punya pacar karna ingin menjaga kepercayaannya tiba-tiba membalas SMS ini,
disitu saya baru tau namanya..
Keesokan harinya, tetap dengan acara ospek
jurusan kami dikumpulkan di lapangan basket kampus kami, seusai itu kami
(masih) disuruh mendapatkan tanda tangan sebanyak banyaknya. Sampai suatu
ketika ada dua orang mahasiswa laki-laki lagi duduk di area lapangan, karena
teman-teman wanita saya lagi berkumpul didaerah situ maka saya mengekor, cuma
karna saya terlambat teman-teman hampir pergi ninggalin saya dan terburu-buru
saya bertanya siapa nama kakak-kakak ini.
Dan akhirnya barulah saya bertemu dia
untuk pertama kalinya. Dia bertanya tentang SMS semalam yg tidak saya balas
kemudian dia meminta saya untuk membalas SMS nya lagi nanti malam, dari situlah
kisah kita bermula..
Entah apa yg membuat saya percaya bahwa dia
memang lebih baik dari lelaki sebelum dia, tapi saya tetap percaya sampai saat
ini, dia benar laki-laki yang baik :)
